Lugas, Hangat, dan Teguh Pendirian: Potret Politikus Senior Ridwan Hisjam

Logat Surabaya yang kental terdengar jelas dalam setiap kalimat yang diucapkannya. Cara bicaranya lugas, hangat, dan bersahabat, membuat siapa pun yang baru pertama kali berjumpa merasa dekat tanpa jarak. Itulah kesan awal ketika mengenal sosok Ridwan Hisjam, politikus senior Partai Golkar yang telah melewati berbagai fase penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Di tengah dinamika politik yang kerap berubah cepat, Ridwan dikenal sebagai pribadi yang teguh memegang prinsip. Ia mampu menjalin hubungan baik dengan beragam kalangan, baik di internal partai, lintas partai, maupun masyarakat luas. Karakter inilah yang membuat namanya bertahan dalam rentang waktu panjang di dunia politik nasional.

Perjalanan Ridwan Hisjam tidak dapat dilepaskan dari momentum besar bangsa. Ia memulai kiprah politiknya sebagai anggota MPR-RI utusan daerah Jawa Timur hasil Pemilu 1997—sebuah masa yang berada di ambang perubahan besar menuju runtuhnya Orde Baru. Saat itu ia bergabung dalam Fraksi Karya Pembangunan, wadah politik yang kemudian bertransformasi dalam lanskap demokrasi pascareformasi.

Pengalaman berada di panggung nasional pada masa transisi memberi Ridwan perspektif yang luas tentang perubahan politik, relasi kekuasaan, serta pentingnya menjaga stabilitas di tengah tuntutan reformasi. Ia menyaksikan langsung bagaimana sistem politik Indonesia bertransformasi dari sentralistik menuju lebih terbuka dan partisipatif.

Bekal pengalaman tersebut menjadi fondasi kuat bagi langkah-langkahnya berikutnya.

Konsistensi Ridwan dalam politik tercermin dari keberhasilannya menjadi anggota DPR-RI selama empat periode:
1997–1999, 1999–2004, 2014–2019, dan 2019–2024.

Rentang waktu ini menunjukkan daya tahan politik yang tidak banyak dimiliki. Ia hadir dalam dua fase berbeda: era awal reformasi yang penuh gejolak serta periode demokrasi yang lebih matang dengan kompleksitas kebijakan yang semakin tinggi.

Di Senayan, Ridwan dikenal sebagai figur pekerja yang fokus pada substansi. Ia tidak menonjolkan retorika berlebihan, namun memilih pendekatan komunikasi yang langsung pada pokok persoalan. Gaya ini selaras dengan karakter masyarakat Surabaya—terbuka, jujur, dan berani menyampaikan pendapat.

Di antara periode pengabdiannya di tingkat nasional, Ridwan juga pernah dipercaya menjadi Wakil Ketua DPRD Jawa Timur periode 2004–2009. Posisi ini memperlihatkan kedekatannya dengan basis daerah serta kemampuannya menjembatani kepentingan lokal dengan kebijakan nasional.

Pengalaman di tingkat provinsi memperkaya sudut pandangnya tentang pembangunan wilayah, kebutuhan masyarakat akar rumput, serta pentingnya sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah. Dari sinilah lahir pendekatan politik yang lebih membumi—tidak terjebak pada wacana elite, tetapi berpijak pada realitas sosial.

Sebelum memasuki dunia politik, Ridwan Hisjam menempuh pendidikan S-1 Teknik Kelautan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada periode 1977–1987. Lingkungan kampus teknik yang rasional dan problem-solving membentuk pola pikirnya yang sistematis serta berbasis solusi.

Semasa mahasiswa, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)—organisasi kader yang banyak melahirkan tokoh nasional. Dari HMI, Ridwan belajar tentang kepemimpinan, tanggung jawab sosial, serta pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan dalam setiap langkah pengabdian.

Perpaduan antara disiplin teknik dan pengalaman organisasi inilah yang kemudian memberi warna khas pada gaya politiknya: rasional, terukur, namun tetap hangat dalam relasi kemanusiaan.

Dalam dunia politik yang sering diwarnai rivalitas tajam, Ridwan justru dikenal mudah bergaul. Ia mampu berbincang santai dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan wibawa. Banyak kolega menilai kekuatan utamanya terletak pada kemampuan merawat hubungan—aset penting yang tidak selalu terlihat di ruang publik, namun menentukan keberlangsungan kerja politik.

Keteguhan pendirian yang dimilikinya tidak membuatnya kaku. Ia tetap terbuka terhadap dialog dan perbedaan pandangan. Kombinasi inilah yang menjadikan Ridwan bertahan melewati perubahan zaman, pergantian kepemimpinan nasional, hingga dinamika internal partai.

Bagi Ridwan Hisjam, politik bukan hanya arena kompetisi kekuasaan, melainkan ruang pengabdian jangka panjang. Empat periode di DPR-RI serta pengalaman di DPRD Jawa Timur menunjukkan komitmen yang konsisten terhadap pelayanan publik.

Ia tumbuh dari tradisi politik yang menempatkan kedekatan dengan masyarakat sebagai fondasi utama. Karena itu, gaya komunikasinya tetap sederhana dan mudah dipahami, mencerminkan akar sosial yang kuat di Jawa Timur.

Perjalanan panjang Ridwan Hisjam merekam bagian penting dari sejarah demokrasi Indonesia—dari akhir Orde Baru, masa reformasi, hingga periode konsolidasi politik modern. Tidak banyak tokoh yang mengalami seluruh fase tersebut secara langsung dalam posisi pengambil kebijakan.

Keberadaannya menjadi pengingat bahwa ketekunan, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi merupakan kunci bertahan dalam politik jangka panjang. Di tengah perubahan yang terus berlangsung, figur seperti Ridwan menunjukkan bahwa integritas personal masih memiliki tempat dalam kehidupan publik.

Dengan tutur khas Surabaya yang hangat dan sikap yang teguh, Ridwan Hisjam menapaki perjalanan politik lebih dari dua dekade. Dari ruang sidang MPR pada masa transisi hingga kursi DPR di era demokrasi matang, ia tetap berjalan dengan prinsip yang sama: menjaga hubungan, bekerja dalam diam, dan mengabdikan diri bagi kepentingan yang lebih luas.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News