Oleh: Yunus Hanis Syam, Alumni FAI UMY
Nama Nurwanto menggema di lingkungan aktivis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), terutama pada masa menjelang Reformasi 1998. Di tengah pergolakan intelektual mahasiswa saat itu, ia tampil sebagai sosok yang memperkenalkan gagasan-gagasan pembaruan Islam—khususnya pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur)—kepada kalangan mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI). Tak berlebihan jika banyak yang menyebutnya sebagai “Cak Nur muda” di lingkungan UMY.
Era akhir 1990-an adalah masa ketika ruang-ruang diskusi mahasiswa dipenuhi perdebatan serius tentang agama, politik, dan masa depan Indonesia. Di FAI UMY, diskursus mengenai jurnal Ulumul Qur’an, pemikiran Hasan Hanafi tentang Kiri Islam, hingga gagasan revolusioner Ali Syariati menjadi santapan harian. Bahasa-bahasa akademik yang rumit justru menjadi kebanggaan—menandakan gairah intelektual yang menyala.
Di tengah atmosfer itulah Nurwanto hadir. Ia bukan sekadar peserta diskusi, melainkan penggerak wacana. Cara berpikirnya sistematis, argumentatif, dan terbuka pada pembaruan. Ia mampu menjembatani tradisi keilmuan klasik dengan semangat modernitas, sesuatu yang jarang dimiliki mahasiswa seusianya kala itu.
Kesibukan organisasi tidak menghalangi prestasi akademiknya. Saat dipercaya menjadi Ketua Koordinator Komisariat (Korkom) IMM UMY, tanggung jawabnya tidak ringan. Namun justru pada fase inilah kualitas intelektualnya semakin menonjol. Ia dikenal sebagai lulusan tercepat sekaligus terbaik, sebuah capaian yang menegaskan bahwa aktivisme dan akademik dapat berjalan beriringan.
Bagi kawan-kawannya, Nurwanto adalah contoh nyata bahwa gerakan mahasiswa tidak harus mengorbankan kedalaman ilmu. Ia menunjukkan bahwa intelektualitas yang matang justru menjadi fondasi kuat bagi gerakan perubahan.
Setelah menamatkan pendidikan sarjana, perjalanan intelektualnya tidak berhenti. Nurwanto melanjutkan studi ke Birmingham, Inggris, untuk meraih gelar magister. Lingkungan akademik internasional memperkaya perspektifnya—mempertemukan tradisi pemikiran Islam Indonesia dengan diskursus global.
Pengembaraan itu berlanjut hingga Australia, tempat ia menapaki jenjang doktoral. Gelar Ph.D. yang diraihnya bukan sekadar simbol akademik, melainkan buah dari konsistensi panjang dalam menekuni dunia ilmu.
Kini, sebagai dosen di UMY, Nurwanto tetap dikenal dengan kepribadian yang sama seperti masa mudanya: low profile, hangat, dan mudah dihubungi. Gelar akademik tinggi tidak menjauhkannya dari kawan lama maupun mahasiswa. Ia justru semakin membumi—menjadikan ilmu sebagai sarana pengabdian, bukan sekadar prestise.
Bagi banyak orang, perjalanan hidupnya menghadirkan pelajaran penting: bahwa intelektualitas sejati tumbuh dari ketekunan, keberanian berpikir, dan kerendahan hati. Dari ruang-ruang diskusi mahasiswa menjelang Reformasi hingga panggung akademik internasional, Nurwanto menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan adalah perjalanan panjang yang selalu menuntut kesungguhan.
Lebih dari sekadar riwayat akademik, kisah Nurwanto adalah cerita tentang keteladanan intelektual. Ia hadir sebagai jembatan antara tradisi pemikiran Islam progresif dengan realitas kampus masa kini. Bagi generasi muda, sosoknya mengingatkan bahwa menjadi aktivis, intelektual, dan pendidik bukanlah pilihan yang saling meniadakan—melainkan jalan yang dapat ditempuh secara bersamaan.
Perjalanan itu masih terus berlanjut. Dan bagi sahabat serta kawan seperjuangan, satu doa sederhana selalu menyertai: sukses selalu untuk Nurwanto, sosok yang sejak muda telah menunjukkan bahwa ilmu, keberanian berpikir, dan kerendahan hati dapat berjalan seiring dalam satu jejak kehidupan.





