Ketua Lembaga Pemikiran Strategik Prabowonomic: Pidato Prabowo di WEF 2026 Tegaskan Indonesia Siap Pimpin Arsitektur Ekonomi Global Baru

Ketua Lembaga pemikiran Strategik Prabowonomic, Tommy Nicson, menyatakan bahwa pidato Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam forum World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos merupakan penanda era baru kepemimpinan global Indonesia. Dalam pernyataan resminya, Tommy Nicson menyebut bahwa Prabowo tidak sekadar berpidato, tetapi mengartikulasikan sebuah visi jangka panjang tentang transformasi ekonomi yang mengakar pada realitas, berpijak pada etika, dan menjangkau masa depan.

“Apa yang kita saksikan di Davos adalah lebih dari diplomasi forum. Ini adalah manifestasi dari Prabowonomics dalam tataran global. Presiden Prabowo menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya mampu menavigasi krisis global, tetapi juga hadir sebagai penggagas arah baru pembangunan ekonomi dunia yang lebih berkeadilan, berkelanjutan, dan manusiawi,” ujar Tommy Nicson, Senin (26/1/2026).

Menurut Tommy Nicson, pidato Prabowo membangun narasi alternatif terhadap model ekonomi global yang selama ini didominasi oleh liberalisme pasar tanpa kendali. Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian—mulai dari perang geopolitik, fragmentasi rantai pasok, hingga krisis kepercayaan antar negara—Prabowo menghadirkan suara moral bahwa perdamaian dan stabilitas adalah syarat mutlak untuk pertumbuhan dan kemakmuran.

Baca juga:  Prabowo-Gibran Sangat Diragukan Mampu Memimpin Indonesia

“Presiden menegaskan, dan ini sangat penting, bahwa tidak ada kemakmuran tanpa perdamaian. Ini bukan sekadar kutipan retoris, tetapi fondasi utama dari visi pembangunan Indonesia ke depan. Stabilitas bukanlah produk sampingan, tetapi produk kebijakan yang terukur dan penuh keberanian,” tambah Tommy Nicson.

Dalam pidatonya, Prabowo memaparkan dua program monumental: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Dana Kekayaan Negara Danantara. Keduanya dianggap Tommy sebagai manifestasi konkret dari Prabowonomics.

MBG: Intervensi Struktural untuk Masa Depan Bangsa

Program MBG, yang telah mencapai 59,8 juta makanan per hari dalam waktu kurang dari satu tahun, menurut Tommy Nicson, merupakan kebijakan sosial berskala revolusioner. Prabowo secara lugas membandingkannya dengan McDonald’s yang membutuhkan 55 dekade untuk mencapai produksi 68 juta makanan per hari, sementara Indonesia menargetkan 82,9 juta porsi harian pada akhir 2026.

“Ini bukan hanya soal angka. Ini adalah soal politik anggaran yang berpihak pada rakyat. Saat negara-negara maju mendebat tentang universal basic income, kita justru mempraktikkan bentuk paling nyata dari jaring pengaman sosial: makanan bergizi harian untuk seluruh anak bangsa,” jelas Tommy Nicson.

Baca juga:  Prabowo Hanya Seorang Jenderal Ayam Sayur?

Danantara: Instrumen Kedaulatan Ekonomi Abad 21

Tommy juga menekankan pentingnya Dana Kekayaan Negara Danantara yang kini mengelola lebih dari 1.044 BUMN dengan aset senilai USD 1 triliun. Ia menyebut Danantara sebagai “mesin strategis untuk industrialisasi nasional” yang akan mengurangi ketergantungan pada sumber daya primer dan mendorong investasi pada sektor-sektor masa depan seperti teknologi, energi terbarukan, dan manufaktur strategis.

“Dengan Danantara, Indonesia tidak lagi menjadi pasar, tapi pemain utama. Kita tidak hanya menarik investasi, tetapi mulai berinvestasi ke dunia—dengan syarat, prinsip, dan tata kelola yang kita tentukan sendiri,” ujarnya.

Danantara juga disebut Tommy Nicson sebagai mekanisme reformasi BUMN paling radikal dalam sejarah Indonesia, dengan target efisiensi menjadi 300 perusahaan strategis dan pembukaan peluang bagi ekspatriat untuk mengelola perusahaan-perusahaan negara di bawah prinsip meritokrasi dan kinerja.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News