Persoalan sampah di Kabupaten Lamongan kembali menuai sorotan tajam. Sejumlah titik penampungan sementara (TPS) hingga kawasan permukiman warga dilaporkan mengalami penumpukan sampah yang tak kunjung teratasi. Kondisi ini memicu keluhan masyarakat karena menimbulkan bau menyengat, mencemari lingkungan, serta berpotensi mengancam kesehatan publik, Jumat (23/01/2026).
Pantauan di sejumlah wilayah menunjukkan tumpukan sampah rumah tangga bercampur plastik dan limbah organik menggunung di berbagai sudut. Selain merusak pemandangan, keberadaan sampah yang tak terangkut optimal itu juga menghambat aktivitas warga dan pengguna jalan, terutama di kawasan dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi.
Seorang warga Lamongan yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa persoalan sampah, khususnya di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tambora, sudah berlangsung sejak lama dan terus memburuk dari tahun ke tahun.
“TPA Tambora sampahnya sudah dari dulu mengunung, puluhan tahun. Setiap tahun volumenya makin meningkat. Apalagi kalau hujan, baunya semakin menyengat dan lalatnya banyak sekali,” keluh warga yang akrab disapa Si Fulan (40).
Menurut warga, kondisi tersebut sangat mengganggu kenyamanan hidup dan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, terlebih di tengah musim penghujan. Air lindi yang bercampur sampah dikhawatirkan mencemari saluran air bawah tanah, memicu genangan, serta menjadi sarang nyamuk penyebab demam berdarah.
“Bau sampah ini bukan cuma bikin tidak nyaman, tapi juga mengganggu kesehatan dan fisik warga. Belum lagi air kotor yang meresap ke tanah dan menyebabkan banjir kecil saat hujan,” tambahnya.
Masalah sampah yang bercampur plastik juga dinilai berpotensi menimbulkan polusi udara berkepanjangan akibat proses pembusukan dan pembakaran liar yang kerap terjadi di sekitar lokasi penumpukan.
Menanggapi kondisi tersebut, Agung Sekar, salah satu pemerhati lingkungan di Lamongan, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan pengangkutan rutin semata. Menurutnya, dibutuhkan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
“Mulai dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, penguatan bank sampah, hingga peningkatan kapasitas tempat pengolahan dan pembuangan akhir harus segera dibenahi,” ujar Agung yang juga merupakan Kader Bela Negara FKBN.
Ia juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengurangi sampah, khususnya plastik sekali pakai, serta memanfaatkan sampah organik menjadi kompos. Tanpa partisipasi aktif warga, persoalan sampah dinilai akan terus berulang.
“Kalau hanya mengandalkan pemerintah tanpa perubahan perilaku masyarakat, masalah sampah tidak akan pernah selesai,” tegasnya.
Hingga kini, warga di kawasan Tambora, Tambak Boyo, hingga Twiri berharap adanya langkah konkret dan berkelanjutan dari dinas terkait agar persoalan sampah di Kabupaten Lamongan tidak terus berlarut-larut. Mereka menilai penanganan serius sangat mendesak demi menjaga kebersihan lingkungan, kesehatan masyarakat, serta kualitas hidup generasi penerus di masa depan. Pewarta: Hadi Hoy





