Sebuah video yang direkam warga di sekitar Pintu Air Kuro, Kabupaten Lamongan, viral di media sosial dan memicu keluhan publik. Dalam video yang beredar pada Minggu (11/1/2026) sore itu, tampak sejumlah pipa raksasa yang seharusnya berfungsi menyedot air luapan Bengawan Jero justru terlihat tidak beroperasi dan tidak mengeluarkan air sama sekali.
Perekam video meluapkan kekecewaannya terhadap kondisi tersebut. Di tengah banjir yang kian meluas dan merendam pemukiman serta akses jalan, infrastruktur pompa yang tersedia dinilai hanya menjadi “pajangan”.
“Iki lho karepe piye, nggo pajangan tok. Gak jelas,” ujar perekam video dengan nada kesal sambil menunjukkan deretan pipa yang terendam genangan air.
Kekecewaan warga muncul karena Pompa Air Kuro selama ini dianggap sebagai tumpuan utama untuk mengurangi beban air di kawasan Bengawan Jero. Namun, saat banjir makin parah, pompa justru terlihat tidak berfungsi optimal.
Menanggapi keluhan yang viral tersebut, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Lamongan, Erwin Sulistya Pambudi, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa terdapat kendala teknis dan sosial yang membuat pompa tidak bisa dioperasikan selama 24 jam penuh.
“Batas operasional pompa itu sebenarnya sampai jam 5 sore. Kalau dipaksakan beroperasi pada malam hari, warga sekitar sering melayangkan protes karena suara genset yang sangat bising,” jelas Erwin saat dikonfirmasi, Senin (12/1/2026) pagi.
Menurut Erwin, pihaknya saat ini tengah berupaya melakukan komunikasi dengan berbagai pihak agar pompa dapat dioperasikan lebih lama demi mempercepat surutnya genangan air.
“Ini masih dicoba dikomunikasikan. Kemarin sudah dikomunikasikan dengan Ibu Kades dan sudah oke untuk operasional malam. Cuma, yang pompa dari BBWS dan Provinsi masih dilaporkan ke pimpinan untuk tindak lanjutnya,” tuturnya.
Sementara itu, dalam sambungan WhatsApp pada Selasa (13/1/2026), Erwin kembali menjelaskan bahwa cerobong pompa sebenarnya sudah berfungsi. Namun, pengoperasiannya belum bisa maksimal karena terkendala teknis pada genset.
“Cerobong sudah berfungsi, tapi belum bisa maksimal dalam pengoperasiannya karena tegangan genset tinggi,” ungkapnya.
Meski demikian, warga berharap ada solusi cepat dan terukur dari pemerintah daerah dan pihak terkait. Mereka menilai alasan teknis seperti tegangan genset yang tinggi tidak seharusnya membuat pompa hanya berfungsi beberapa jam saja, sementara banjir terus merendam wilayah mereka.
Dengan curah hujan yang masih tinggi, keterlambatan penyedotan air dikhawatirkan akan memperparah kerugian material dan aktivitas masyarakat di kawasan Bengawan Jero. Warga pun mendesak agar penanganan banjir dilakukan secara serius dan berkelanjutan, bukan sekadar respons sementara. Pewarta: Hadi Hoy





