Peta Politik Timur Tengah Pasca Kejatuhan Rezim Bashar Al-assad di Suriah

Oleh: Rokhmat Widodo, Pengamat Timur Tengah, Kader Muhammadiyah Kudus

Kejatuhan Rezim Bashar al-Assad di Suriah akan membawa perubahan besar bagi peta politik Timur Tengah. Sebagai sebuah wilayah yang sudah lama bergejolak, Suriah, bahkan sebelum perang saudara, merupakan titik panas geopolitik yang signifikan. Dampak dari perubahan rezim di sana akan beresonansi luas, memicu reaksi berantai yang sulit diprediksi secara pasti.

Salah satu skenario yang paling sering diutarakan adalah munculnya pemerintahan transisi yang inklusif. Pemerintahan ini idealnya akan mewakili berbagai kelompok etnis dan agama di Suriah, termasuk Sunni, Syiah, Kurdi, dan Kristen. Namun, mencapai konsensus di antara kelompok-kelompok yang sudah lama berkonflik ini akan menjadi tantangan besar. Kepercayaan dan rekonsiliasi harus dibangun dari nol, dan itu membutuhkan waktu, usaha, dan komitmen internasional yang kuat. Kegagalan dalam membentuk pemerintahan transisi yang representatif bisa memicu konflik baru, bahkan perang saudara yang lebih berkepanjangan.

Jika pemerintahan transisi berhasil dibentuk, tantangan selanjutnya adalah rekonstruksi negara. Suriah hancur lebur akibat perang saudara yang panjang. Infrastruktur hancur, perekonomian kolaps, dan jutaan orang mengungsi. Rekonstruksi akan membutuhkan dana besar dan kerjasama internasional yang luas. Namun, masalah korupsi dan kurangnya transparansi bisa menghambat proses ini. Selain itu, pembagian sumber daya dan kekuasaan di antara berbagai kelompok juga bisa menjadi sumber konflik baru.

Peta geopolitik regional juga akan berubah drastis. Kehilangan sekutu dekatnya, Assad, akan menjadi pukulan telak bagi Iran dan Rusia. Iran akan kehilangan akses strategisnya ke Mediterania dan jalur pasokannya ke Hizbullah di Lebanon. Rusia, yang telah menginvestasikan banyak sumber daya di Suriah, akan kehilangan pangkalan militernya dan pengaruhnya di kawasan tersebut. Kedua negara ini kemungkinan akan berusaha keras untuk mempertahankan pengaruhnya, bahkan mungkin dengan cara yang lebih agresif.

Di sisi lain, Turki, Arab Saudi, dan Amerika Serikat kemungkinan akan melihat kejatuhan Assad sebagai kesempatan untuk membentuk kembali peta politik di Suriah sesuai dengan kepentingan mereka. Turki, yang memiliki ambisi regional yang besar, kemungkinan akan berusaha untuk memperluas pengaruhnya di Suriah utara, mungkin dengan mendukung kelompok-kelompok pemberontak yang sesuai dengan agendanya.

Arab Saudi, yang selama ini mendukung kelompok-kelompok pemberontak anti-Assad, kemungkinan akan meningkatkan dukungannya untuk membentuk pemerintahan yang lebih sesuai dengan visi politiknya. Amerika Serikat, meskipun telah mengurangi keterlibatan militernya di Suriah, kemungkinan akan tetap berperan penting dalam proses rekonstruksi dan stabilisasi negara.

Namun, skenario ini juga membawa risiko yang signifikan. Pertarungan memperebutkan pengaruh di Suriah dapat memicu konflik regional yang lebih luas, melibatkan negara-negara lain di Timur Tengah. Munculnya kelompok-kelompok ekstrimis seperti ISIS juga merupakan ancaman yang nyata. Meskipun ISIS telah melemah, potensi kebangkitan kembali mereka tetap ada, terutama di tengah kekacauan pasca-konflik.

Lebih jauh lagi, isu Kurdi akan menjadi kunci dalam menentukan peta politik Suriah pasca-Assad. Kurdi telah membentuk pemerintahan otonom di wilayah utara Suriah. Nasib pemerintahan ini akan menjadi titik perselisihan utama antara berbagai kekuatan regional dan internasional. Turki, yang menganggap pemerintahan Kurdi sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya, mungkin akan berupaya untuk menghancurkannya. Sementara itu, Amerika Serikat dan beberapa kekuatan Eropa mungkin akan berusaha untuk melindungi pemerintahan Kurdi, setidaknya sebagian.

Peta politik Timur Tengah pasca-kejatuhan rezim Bashar al-Assad di Suriah akan menjadi sangat kompleks dan sulit diprediksi. Skenario yang paling mungkin adalah periode transisi yang panjang dan penuh tantangan, dipenuhi dengan ketidakpastian dan potensi konflik baru. Proses rekonstruksi dan stabilisasi akan membutuhkan kerjasama internasional yang kuat dan komitmen jangka panjang dari semua pihak yang terlibat.

Keberhasilannya akan bergantung pada kemampuan semua pihak untuk mengatasi perbedaan mereka, membangun kepercayaan, dan berkomitmen untuk menciptakan Suriah yang damai dan stabil. Kegagalan akan menyebabkan konsekuensi yang sangat besar, tidak hanya bagi Suriah sendiri, tetapi bagi seluruh kawasan Timur Tengah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News