Sebut Prabowo akan Memerintah Bergaya Militeristik, PPJNA 98: Pernyataan Djarot PDIP Lebay

Pernyataan Ketua DPP PDIP bidang Ideologi dan Kaderisasi, Djarot Syaiful Hidayat berlebihan yang menyebut Prabowo akan memerintah bergaya militeristik saat menjadi Presiden Indonesia.

“Kalau anak sekarang menyebut pernyataan Djarot itu lebay (berlebihan). Prabowo tidak akan menggunakan pendekatan militeristik ketika menjadi presiden,” kata Ketua Umum PPJNA 98 Anto Kusumayuda kepada redaksi www.suaranasional.com, Sabtu (18/5/2024).

Menurut Anto, Prabowo mengikuti mekanisme demokrasi ketika ingin berkuasa. “Prabowo membuat Partai Gerindra dan ikut dalam Pilpres. Mantan Danjen Kopassus selalu menghormati demokrasi,” jelasnya.

Kata Anto, Prabowo tidak menghiraukan orang yang mengkritik dan menghinanya. “Prabowo sudah terbiasa mendapat pendidikan barat sekeras kritikan apapun diterima dan tidak pernah dilaporkan ke polisi,” ungkap Anto.

Baca juga:  PRIMA Serukan Kader untuk Berjuang Memenangkan Prabowo Gibran Sekali Putaran

Anto menilai, Djarot sedang berkhayal ketika Prabowo menjadi Presiden Indonesia. “Djarot berbicara tanpa data,” paparnya.

Ketua DPP PDIP bidang Ideologi dan Kaderisasi, Djarot Syaiful Hidayat meragukan klaim presiden terpilih, Prabowo Subianto tak menggunakan gaya kepemimpinan militeristik nantinya.

Djarot mengatakan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) itu memang sudah 25 tahun tak lagi berkecimpung di dunia militer.

“Kita akan melihat gaya kepemimpinan asli Pak Prabowo seperti apa, meskipun sudah 25 tahun itu sudah di luar militer,” kata Djarot di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Kamis (16/5/2024).

“Pertanyaan kita adalah, apakah demikian mudah seseorang itu bisa berubah watak dan karakternya, kita berharap kita selalu berubah ke hal jauh lebih baik,” ujarnya.

Baca juga:  Tokoh Petani Ikan Wonogiri Dukung Prabowo-Gibran Menang Satu Putaran

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini menyebut karakter militer sejatinya sangat bagus karena disiplin hingga patriotik.

Asalkan, kata Djarot, tidak menggunakan kekuatan seperti zaman Pemerintahan Soeharto dalam memimpin.

“Yang tidak bagus adalah apabila menggunakan kekuatan-kekuatan yang seperti rezim Orba untuk membungkam, untuk mengintimidasi untuk melarang membatasi dan sebagainya,” ucapnya.

Namun, dia menganggap gaya kepemimpinan seperti itu akan sulit dilakukan pada kondisi sekarang ini.