Penguasa Boneka Harus Dimusnahkan dan Dihancurkan

Oleh: Sutoyo Abadi (Koordinator Kajian Politik Merah Putih)

Penguasa boneka di Indonesia telah menciptakan dan membawa rakyat menjadi lupa, lingkung mengenali dirinya sebagai bangsa yang berbudaya diera penjajahan gaya baru yang sedang menguasai Indonesia.

Zeitgeist berarti waktu atau zaman dan Geist yang berarti jiwa, merupakan pemikiran dominan pada suatu masa yang menggambarkan dan mempengaruhi sebuah budaya dalam masa itu sendiri.

Pemikiran suatu masa  bisa diciptakan dan dimainkan sesuai kepentingan politik apa yang di inginkan ( baik atau buruk ). “Ad maiora natus sum – Aku hidup untuk sesuatu yang lebih baik”. Tetapi saling menghancurkan adalah tabiat Iblis manusia ambisius kekuasaan berwajah dan berwatak angkara murka

Hanya ingin tetap berkuasa, merekayasa, memanipulasi dengan terus membual kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat dengan menciptakan rakyat tetap degil, bodoh, miskin oleh rekayasa politik kekuatan dan kekuasaan, untuk menindasnya.

Tragis benar bangsa ini, otoritas hak-hak kewargaannya terpenjara sistem yang buruk, yang tak bermodal kesalehan sosial, demokratis untuk tegaknya daulat rakyat, ber- good governance – melayani rakyat dan berkeadilan.

Apakah bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak punya keinginan untuk membebaskan diri dari penindasan ibarat “a sheet of loose sand”. Bagaikan pasir yang meluruk dan rapuh. Tiada keteguhan, sehingga mudah ditiup ke mana-mana. Anehnya saat ini mental menindas justru muncul dari penguasa / politisi boneka dan budak oligarki yang sedang berkuasa saat ini.

Baca juga:  Tak Undang Jokowi di HUT Ke-51 PDIP, Pengamat: Megawati "Talak Tiga" Jokowi

Dengan meluasnya tendensi “timokrasi” ( kekuasaan gila ), tata kelola negara,  mengedepankan proyek mercusuar dan kehebatan permukaan ketimbang meringankan derita rakyat karena aneka himpitan.

Perampasan tanah rakyat dan pengusiran penduduk dari tanah kelahirannya dengan dalil Proyek Strategi Nasional ( PSN ) terjadi dimana-mana di ganti dengan kedatangan warga asing benar benar menggila.

Kata Franklin D. Roosevelt ; “Dalam politik, tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Jika itu terjadi, Anda bisa bertaruh itu direncanakan seperti itu”

Kemarahan rakyat mulai bangkit melawan.  Adalah hak rakyat untuk mengubah atau menghentikan pemerintahan tirani, dan mengganti dengan pemerintahan sesuai dengan cita-cita kemerdekaan. Karena, karakter pemimpin tirani tidak bisa diterima untuk memimpin bangsa yang merdeka.

Saat bersamaan tetap saja muncul : “Intelektual sebagai antek penguasa yang mengabaikan, bahkan merasionalisasi, kejahatan negara” dengan lugasnya bohong dalam menyampaikan kebenaran, demi sesuap nasi dan materi.

Kecerdasan Oligarki menyatukan bersatunya Bandit – Bandar dan Badut Politik organik dengan Bandit, Bandar dan  Badut politik non-organik, adalah gambaran peta perselingkuhan dan pelacuran politik yang melibat semua jejaring kekuasaan ( partai politik ) semua masuk dalam kolam yang sama.

Baca juga:  Aksi Damai People Power Rakyat Solo Raya Serukan Turunkan dan Adili Rezim Korup

Mampu meluluh lantakan peran dan fungsi hampir di semua institusi dan lembaga negara dalam satu kekuasaan dan genggaman remot dan kendali Oligarki.

Kekuasaan Presiden bersama gengnya dan kekuasaan Partai Politik sudah menjelma menjadi  horor – kekuatan mereka sangat besar dan dalam menentukan kebijakan negara muncul stigma rakyat istilah Suka Suka Kita ( SSK ), korupsi meraja lela.

Menghadapinya kondisi seperti ini Jangan Naif : “terhadap kekuasaan yang telah berubah menjadi tirani dan otoriter tidak boleh ada kompromi dan tidak boleh ada jalan tengah, harus di musnahkan dan di hancurkan “

Kalau negara sudah menjadi anarchis – semua harus di babad dulu .. ganti yang baru (Plato).

Perubahan tidak akan terjadi jika kita menunggu orang lain atau waktu yang lain. Kitalah yang ditunggu-tunggu. Kita adalah perubahan yang dicari”. (Barack Obama).

Peringatan Plato, “Jika Anda tidak peduli dengan pernguasa tiran,  maka Anda ditakdirkan untuk hidup di bawah kekuasaan orang kejam, bodoh, dungu dan tolol”.