Ketua Umum Generasi Cinta Negeri (Gentari), Habib Umar Alhamid, menilai momentum 212 masih memiliki arti strategis bagi persatuan nasional dan citra Indonesia di mata dunia. Ia menyebut Aksi Bela Islam yang dikenal dengan aksi 212 merupakan bukti kekuatan moral bangsa yang hingga kini tetap relevan, terutama setelah langkah internasional Presiden Prabowo Subianto dalam isu Palestina.
Menurut Habib Umar, dunia kembali memberi perhatian besar kepada Indonesia setelah Presiden Prabowo mengusung tema “Merdekakan Gaza Menjadi Negara Palestina.” Ia menilai sikap tersebut menunjukkan posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar yang berani menyuarakan keadilan global.
“212 adalah bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki kekuatan moral yang diperhatikan dunia. Hal itu terbukti dengan presiden Prabowo yang tampil di berbagai forum internasional bagaikan harimau yang mengaum dan siap menerkam ketidakadilan,” ujar Habib Umar Alhamid kepada Wartawan, Sabtu (29/11/2025).
Menurutnya, 212 dinilai bertransformasi jadi simbol negara. Aksi 212 kini bukan lagi sekadar ekspresi kemarahan umat, tetapi telah menjadi simbol bahwa negara hadir membela kebenaran. Kehadiran pemerintah dan presiden diperlukan untuk mempertegas nilai tersebut.
“Reuni 212 kali ini bukan hanya energi umat, tetapi simbol bahwa negara berdiri bersama kebenaran. 212 adalah penghormatan bangsa terhadap Presiden Prabowo sebagai suara umat dan penolak penindasan, dan Genosida” jelasnya.
Ia menegaskan kembali bahwa lahirnya 212 pada 2016 merupakan respons terhadap gelombang kemarahan akibat penghinaan terhadap ayat suci Al-Qur’an. Namun aksi itu tetap berlangsung damai dan dinilainya sebagai contoh kedewasaan masyarakat dan rakyat Indonesia secara umum.
Selain itu, Habib Umar juga menyinggung ironi sejarah hubungan Palestina dan Yahudi. Dulu Palestina memberi perlindungan kepada kaum Yahudi yang diburu Nazi, yang dikenal dengan holocaust (pembantaian sistematis-red) tetapi hari ini dunia melihat mereka yang pernah tertindas dan diterima oleh penduduk palestina justru membuat permusuhan dan penganiayaan.
“Inilah yang di namakan air susu dibalas air tuba.” tegas Habib Umar.
Ia menilai sikap Indonesia terhadap Palestina selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan antarbangsa yang sejak lama menjadi bagian dari politik luar negeri Indonesia.
Untuk itu, Habib Umar menyerukan dan mengajak agar reuni 212 kembali dijadikan momentum pemersatu bangsa, bukan pemicu polarisasi. Ia meminta seluruh elemen, termasuk pemerintah, ulama, dan masyarakat, menjaga suasana damai di tengah dinamika nasional dan internasional saat ini.
“Mari hentikan pertikaian. Kita bangsa bermartabat yang harus menciptakan kedamaian,” katanya.
Selain itu, ia secara khusus mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk dapat hadir dalam momentum akbar Reuni 212 mendatang di Monas. Kehadiran kepala negara dinilai penting untuk mempertegas posisi Indonesia sebagai pembela nilai keadilan global dan aspirasi umat.
“Untuk itu, Saya turut mengajak seluruh anak bangsa, tokoh nasional, ulama, dan elemen 212 untuk kembali bersatu. Reuni 212 bukan nostalgia, tetapi ikhtiar mempersatukan umat dan bangsa,” tuturnya.
“Saya berharap bahwa 212 tetap menjadi simbol kekuatan moral bangsa yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam isu-isu global. Dan meminta seluruh pihak tetap menjaga persatuan, menjadikan reuni 212 sebagai ruang damai, dan menghadirkannya sebagai momentum kebangsaan yang konstruktif,” katanya.





