Gus Murtadho: PBNU Jadi Centeng Oligarki

Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) yang juga pengelola pesantren ekologi, Roy Murtadho atau yang akrab disapa Gus Murtadho, melontarkan kritik keras terhadap arah organisasi PBNU yang dinilainya semakin menjauh dari nilai-nilai perjuangan warga nahdliyin.

Dalam pernyataannya, Gus Murtadho menyebut kondisi NU saat ini sebagai yang “paling memalukan” dalam sejarah, akibat serangkaian persoalan yang menimpa jajaran kepengurusan pusat.

“Belum pernah semalu ini jadi NU. Berbagai masalah mendera: feodalisme pesantren, bendahara PBNU terjerat korupsi, PBNU jadi centeng oligarki,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).

Baca juga:  Anggota NU Ini Jadi Tersangka Kasus E-KTP

Ia menilai sejumlah kebijakan dan langkah PBNU belakangan justru memperlihatkan kedekatan dengan kepentingan elite ekonomi. Hal itu termasuk penerimaan konsesi tambang batu bara untuk PBNU, serta adanya pengurus PBNU yang duduk sebagai komisaris di perusahaan tambang nikel.

“PBNU nerima tambang batubara, pengurus PBNU jadi komisaris tambang nikel di PT Gag yang merusak Raja Ampat. Eh, sekarang mereka rebutan tambang,” kata Gus Murtadho.

Menurutnya, fenomena itu bukan sekadar masalah etika, tetapi menunjukkan bahwa organisasi ulama terbesar di Indonesia tersebut kian terjebak dalam pola patronase dan relasi kekuasaan yang justru merugikan masyarakat.

Baca juga:  Saatnya Muhasabah dan Berbenah, Gus Murtadho: Tayangan Trans7 Memang Nyiyir, tapi NU Jangan Reaktif

Kritik Gus Murtadho muncul di tengah menguatnya perdebatan publik terkait langkah pemerintah yang membagikan izin usaha pertambangan (IUP) kepada sejumlah organisasi keagamaan, termasuk PBNU. Kebijakan ini menuai kontroversi karena dinilai berpotensi membuka ruang konflik kepentingan serta mendorong ormas agama menjauh dari fungsi sosialnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PBNU belum memberikan tanggapan resmi atas kritik tersebut.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News