by

Tak Digubris dan Ultimatum Lagi Kadernya, Sastrawan Politik: Megawati Terlihat sudah Lemah

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri terlihat sudah lemah yang beberapa kali mengultimatum kadernya tidak melakukan manuver politik. Namun faktanya, Ganjar masih tetap melakukan manuver politik termasuk adanya berbagai deklarasi mendukung Gubernur Jawa Tengah itu menjadi capres 2024.

“Berulangkalinya Megawati mengeluarkan ‘ultimatum’ kepada kadernya akan memecat, dan menyarankan mundur sebelum dipecat, sepertinya tidak efektif,” kata Sastrawan Politik Ahmad Khozinudin kepada redaksi www.suaranasional.com, Selasa (21/6/2022).

Kata Khozinudin, kharisma Megawati memang sudah turun, bahkan drastis. Jauh dibandingkan Soeharto dulu yang hanya dengan lirikan (tanpa ultimatum), segenap kader Golkar paham Soeharto tidak berkenan, dan langsung mentaati Soeharto.

“Megawati sudah berada di titik akhir kekuasaannya, makanya wajar jika Megawati sangat mengkhawatirkan kondisi politik Indonesia khususnya PDIP, pasca dirinya tidak ada,” ungkapnya.

Pernyataan Megawati terhadap kadernya tidak melakukan manuver politik sudah dilakukan beberapa kali. Misalnya saat acara virtual PDIP bertema ‘Penyampaian Tali Asih Kader Partai Meninggal Dunia Terpapar COVID-19’, Kamis (30/9/2021) lalu, Mega juga pernah menyinggung hal serupa.

Baca juga:  Ada Miskomunikasi Akut di Pemerintahan Jokowi

Dalam acara yang dihadiri banyak kader termasuk sosok Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, megawati juga sudah pernah mengingatkan kepada segenap kader PDIP.

Kata Khozinudin, Megawati menegaskan kepada kader PDIP untuk selalu menaati aturan partai. Bila memang dirasa tidak sesuai, dia meminta kader tersebut lebih baik mundur secara terhormat dibanding kena pecat partai.

“Saya tetap memantau, sesuai AD/ART berawal dari sanksi teguran dan yang paling tinggi pemecatan,” ungkap Megawati.

Sebelumnya, Megawati sampai mengeluarkan Instruksi Nomor 3134/IN/DPP/VIII/2021 perihal penegasan komunikasi politik. Instruksi ini ditandatangani Megawati dan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto pada 11 Agustus 2021, isinya larangan bagi kader bicara Pilpres 2024.

“Faktanya, manuver kader partai tetap jalan. Ganjar tetap terus tebar pesona melalui tim sosmednya. Bahkan, di Purworejo muncul gerakan Celeng Berjuang dari kader PDIP yang mengusung Ganjar nyapres, yang substansinya menentang isi instruksi Megawati,” ungkap Khozinudin.

Baca juga:  Ini Operasi Intelijen Freeport Terhadap Setya Novanto

Menurut Khozinudin, manuver Ganjar dengan tim Sosmednya dan Jokowi dengan Relawan Projonya, secara substansi telah menentang arahan Megawati dan ‘Ndisik’i Dawuh’ (jawa : mendahului titah) Megawati selaku pemilik otoritas penentu Capres PDIP.

“Beredarnya video Jokowi menghadap Megawati -dalam kapasitas petugas partai- baru baru ini, tidak menunjukan Jokowi tunduk pada Megawati. Jokowi justru paham psikologi Mega dan falsawah huruf jawa ‘dipangku’ mati. Jokowi hanya memberikan kebanggaan semu kepada Megawati dalam forum partai, sementara mayoritas kegiatan Jokowi di luar partai dapat dipandang ‘mbalelo’ terhadap partai,” paparnya.

Khozinudin mengatakan, kedekatan Jokowi dengan Surya Paloh Ketua Umum Partai Nasdem, informasi dari Budi Arie Setiadji yang menyebut Jokowi akan menyetujui dua nama yang diusulkan Surya Paloh (Ganjar – Anies), dan yang paling kontras adalah kehadiran Jokowi di acara relawan Projo di Magelang. “Ini mengkonfirmasi Jokowi tengah dan terus bermanuver terkait Pilpres 2024,” pungkas Khozinudin.


Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *