by

Kuantum Diplomasi Sebagai Poros Kota dan Desa di DKI Jakarta

Oleh : Nazar EL Mahfudzi, SIP. MHI
Pengamat Sosial-Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Ide diplomasi kuantum pertama kali muncul dalam percakapan antara mantan Menteri Luar Negeri AS George P. Schultz dan fisikawan teoretis Sidney Drell , yang mereka ingat terlihat seperti ini. ‘Begitu Anda mengamati sesuatu dalam fisika, ia berubah, jadi sangat sulit untuk benar-benar mengamati sesuatu,’ kata Drell’. (Katharina Hone, Quantum diplomacy – ideas from the other side of the looking glass?, 2016)

Konsep smart city di Jakart mempunyai 6 pilar digital kuantum: (smartcity.jakarta.go.id)
1. Diplomasi Smart Governance
2. Diplomasi Smart People
3. Diplomasi Smart Living
4. Diplomasi Smart Mobility
5. Diplomasi Smart Economy
6. Diplomasi Smart* Environment

Smart city DKI Jakarta menggunakan data kuantum yang terproteksi alogritma pelayanan publik masyarakat, bermanfaat untuk disajikan dengan lebih transparan terintegrasi “satu data” dari berbagai instansi birokrasi.

Selain itu, diplomasi kuantum DKI Jakarta Smart City Jakarta meningkatkan partisipasi warga seperti membuat data, aplikasi, memberikan masukan, dan memberikan kritikan. Sehingga kota ini menjadi kota yang pintar karena melibatkan warganya, melibatkan pemerintahnya, kekuasaannya, uangnya, dan ruangannya untuk menjadikan semua kehidupan lebih baik.

Jakarta menjadi poros desa dan kota peri-peri yang terintegrasi. Wilayah peri urban adalah wilayah sekitar atau pinggirian kota, dimana wilayah ini terletak diantara wilayah yang bersifat kekotaan sepenuhnya dan wilayah pedesaan. Dari beberapa contoh wilayah tersebut, perkembangan dan penanganan wilayah peri-urban relatif berbeda tergantung bagaimana strategi masing-masing stakeholders daerah mengelola kawasan peri-urban tersebut, pada konteks sinkronisasi digital teknologi kawasan perkotaan dengan wilayah peri-urbannya.

Sebagai pengembangan yang berorientasi pada teknologi revolusi industri 4.0 termasuk bioteknologi, nanoteknologi, komputer kuantum, semikonduktor, dan teknologi penyimpanan energi yang menopang kota DKI Jakarta sebagai kuantum Smart City.

Pembangunan desa unggul di Indonesia salah satu Contoh, Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin meluncurkan sejumlah desa inovasi di Indonesia yang salah satunya ada di Dusun Tumba Desa Tamaila Utara, Kecamatan Tolangohula Kabupaten Gorontalo.(10/8/2020)

Produk desa unggul inovasi yang dilakukan di dusun Tumba adalah pembangunan pembangkit listrik berskala picohydro, yang mengandalkan arus sungai di kawasan tersebut.

Program tersebut merupakan kolaborasi program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF-SGP), melalui lembaga payung Perkumpulan Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) bersama PKEPKL UNG, LPPM UNG dan pemerintah Desa Tamaila Utara.

Maka tidak lah menjadi mustahil deskripsi Einstein tentang fenomena kuantum sebagai ‘aksi seram di kejauhan’ dan skeptisismenya terhadap bagian-bagian dari teori baru yang diungkapkan dalam peringatan bahwa ‘Tuhan tidak bermain dadu’ mungkin terdengar familiar.

Diplomasi Kuntum DKI Jakarta dalam Smart City

Diplomasi di Era Informasi tahun 1997, Schultz, diplomat berpengalaman, membuat hubungan antara ide-ide di jantung teori kuantum dan diplomasi yang dipengaruhi oleh Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) baru menjadi lebih kuat.

Perkembangan digital teknologi menjadi ‘Sebuah aksioma teori kuantum adalah ketika Anda mengamati dan mengukur beberapa bagian dari suatu sistem, Anda pasti mengganggu keseluruhan sistem.

Smart City DKI Jakarta sebagai kuantum diplomasi poros desa di peri-peri kota, karena terjadi observasi digital diplomasi yang menempatkan warga negara sebagai agen perubahan revolusi industri 4.0.

Fernomena ruang gerak penguhuni kota DKI Jakarta tidak luput dari kamera TV berada tepat di tengah-tengah suatu peristiwa yang kacau, mencoba menangkap esensinya secara obyektif. ‘ Kurangnya kepastian dan kebenaran obyektif serta dampak dari tindakan observasi inilah yang membuatnya mendukung istilah diplomasi kuantum.

Referensi berikutnya untuk diplomasi kuantum dalam sebuah artikel di Hague Journal of Diplomacy oleh James Der Derian (2011), profesor di Universitas Sydney dan direktur Pusat Studi Keamanan Internasional. Tertarik pada ketidakpastian dan keterkaitan dunia global, Der Derian bertujuan untuk menggambarkan ‘transformasi diplomasi yang lebih radikal’ (hal. 374). Dalam artikel tersebut, ia bekerja untuk memahami ‘peristiwa yang tampaknya terpisah karena mereka terjerat melalui di mana-mana, interkonektivitas dan refleksivitas dari berbagai media yang semakin mengglobal’ (hlm. 374-5).

Mengakui para pemain baru dan bentuk interaksi baru di bidang permainan diplomatik, ia mencari cara untuk menggambarkan diplomasi yang telah ‘bergeser dari negosiasi antar negara bagian menjadi negosiasi antar kota, kotamadya, desa, jalanan, dan jalan lain otoritas dan perwakilan’ ( hal.375).

Hal inilah mengisyaratkan bahwa DKI Jakarta yang mempelajari hubungan internasional dan diplomasi tidak lagi terperangkap dalam pemikiran Newtonian, pandangan dunia yang berakar pada fisika abad ketujuh belas yang tidak sesuai dengan fisika baru maupun dunia sosial yang kompleks dan saling terkait di abad kedua puluh satu.

Diplomasi kuntum DKI Jakarta adalah representasi linier dari rangkaian peristiwa dan rantai sebab dan akibat yang jelas tidak lagi sesuai hanya sebatas pola digitalisasi teknologi.

Peristiwa melintasi ruang dan waktu; masyarakat bersifat lokal sekaligus global dan bercampur dulu dan sekarang. Mengambil perspektif kuantum menyoroti simultanitas – hal-hal yang terjadi pada waktu yang sama dan kemungkinan untuk hadir di berbagai tempat pada waktu yang sama. Di satu sisi, TIK memungkinkan keterbukaan yang lebih besar, diplomasi publik, dan aktor baru yang muncul di kancah diplomatik. Di sisi lain, dunia rahasia diplomasi tradisional masih sangat hidup dan sangat dibutuhkan.

Adler-Nissen (2015), profesor di Universitas Kopenhagen. Merenungkan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) mempunyai peran negosiasi berlangsung di depan mata publik, dan pada saat yang sama di balik pintu tertutup dari negosiasi rahasia diplomasi tradisional. Ini adalah simultanitas diplomasi digital.

Kota dan desa menjadi kukuatan Para Diplomasi pejabat legislatif dan publik untuk menempati kedua ruang digital – pada dasarnya menjadikan mereka seorang diplomat kuantum.

Loading...
Loading...

loading...

News Feed