by

Politikus Demokrat: Roh Demokrasi Era Jokowi seperti di Zaman Demokrasi Terpimpin

Roh demokrasi era Joko Widodo (Jokowi) seperti zaman demokrasi terpimpin Soekarno.

“Roh demokrasi kita sekarang tampak sama seperti yg terjadi di zaman demokrasi terpimpin,” kata politikus Demokrasi Benny K Harman di akun Twitter-nya @BennyHarmanID.

Kata Benny, pada demokrasi terpimpin, partai-partai dan politisi tidak berani mengkritik Presiden Soekarno. “Dalam tahun 1960-an. Partai2 dan para politisi tidak berani mengkritik,” ungkapnya.

Benny mengatakan, rakyat akan mengawasi pemerintahan. “Rakyat monitor,” papar Benny.

Survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan persepsi publik terhadap tingkat demokratisasi di Indonesia semakin menurun. Sebanyak 36 persen responden menyatakan Indonesia menjadi kurang demokratis dan 37 persen menyatakan Indonesia tetap sama keadaannya. Hanya 17,7 persen yang menyatakan bahwa Indonesia lebih demokratis.

Angka persepsi kurang demokratis lebih tinggi dibandingkan yang lebih demokratis adalah “alarm” yang perlu diantisipasi oleh elite politik, kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi saat memaparkan hasil survei, Ahad (25/10/2020) lalu.

Mereka yang menyatakan pendapat yang berseberangan dengan narasi pemerintah juga tak luput dari represi dengan tudingan ujaran kebencian dan hasutan. Setidaknya ada tujuh admin media sosial ditangkap polisi dengan tuduhan mengajak dan menghasut demonstran dalam penolakan UU Ciptaker.

Sementara sejumlah orang yang getol menyatakan penolakan terhadap UU Ciptaker mengalami peretasan media sosial, di antaranya Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Fajar Adi Nugroho dan Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Aspek Indonesia) Mirah Sumirat.

Perkumpulan yang terang-terangan berseberangan dengan pemerintah seperti Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) juga direpresi. Para pentolannya ditangkap polisi atas tuduhan menghasut.

Daftar bertambah panjang jika memasukkan peristiwa lain dalam setahun terakhir, setidaknya sejak September 2019, ketika demonstrasi terhadap sejumlah UU kontroversial merebak. Ketika itu banyak aktivis yang ditangkap usai menyampaikan pendapat. Di antaranya adalah jurnalis dan aktivis HAM Dandhy Laksono; musisi sekaligus jurnalis Ananda Badudu; dan peneliti kebijakan publik Ravio Patra.

Loading...
Loading...

loading...

News Feed