by

Sukolilo, Pusat Kerajinan Anyaman Bambu di Lamongan

Desa Sukolilo, Kecamatan Sukodadi, dikenal sebagai pusat anyaman bambu yang ada di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Caping atau topi petani misalnya, menjadi salah satu kerajinan anyaman bambu yang sudah dikerjakan sejak lama dan sudah turun temurun.

Pemandangan orang sedang menganyam bambu, untuk dijadikan caping seperti ini hampir tiap hari bisa dijumpai di Desa Sukolilo.

Dikutip dari Times Indonesia, Mohammad Lasmiran, Kepala Desa Sukolilo, Kecamatan Sukodadi mengatakan banyaknya warga yang berkreasi dengan anyaman bambu ini membuat desanya dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan anyaman bambu.

“Sejak lama desa kami memang dikenal dengan kerajinan anyaman bambu, mungkin sejak tahun 1940-1950-an dan yang mengawali kerajinan bambu itu ya kerajinan membuat caping ini,” kata Lasmiran, Ahad (23/12/2018).

Bahkan, dikatakan Lasmiran meski sudah berusia senja, warganya masih aktif menganyam bambu untuk dijadikan caping atau kipas.

“Biasanya warga ini berkelompok antara 5 sampai 10 orang mengerjakan anyaman caping ini,” ucapnya.

Salah satu warga yang mengerjakan anyaman bambu ini adalah Mbah Juwariyah (75). Bersama rekan-rekannya yang seusia, Ia menyanyam bambu yang sudah diraut sedemikian rupa hingga tipis menjadi sebuah caping.

Baca juga:  Soal Nonton BarengĀ Film G30S/PKI, Panglima TNI: Itu Perintah Saya, Mau Apa?

Juwariyah mengaku, aktivitas menganyam bambu untuk dijadikan caping ini telah dilakoninya sejak kecil.

“Saya sudah sejak kecil membuat caping ini, dari dulu ya sudah begini ini,” kata Juwariyah.

Berbekal kerbut atau alat cetak caping yang juga terbuat dari bambu, Juwariyah mulai menganyam caping dengan diameter beragam mulai dari diameter 30 cm hingga 1 meter.

Berbeda dengan caping daerah lain, caping karya warga Sukolilo ini bisa melebar dan berbentuk lebih kerucut.

“Saya dapat ilmunya juga dari orang-orang tua dulu, dari dulu ya membuat caping seperti ini di sela-sela kegiatan rumah atau di sela-sela bertani,” ujarnya.

Meski berusia senja, Juwariyah mengaku masih bisa membuat 5 hingga 7 caping. Ia dengan rekan-rekannya biasanya berbagi tugas, ada yang menganyam dan ada juga yang memberi pelapis pinggir.

Baca juga:  Ponpes Daarut Tauhiid Siapkan 50 Bus Berangkatkan Santri Ikut Aksi Super Damai Malam Ini

“Yang meraut biasanya anak-anak saya yang laki-laki, untuk kemudian merendam bambu agar kuat,” kata Juwariyah.

Sementara, untuk harga satu caping karya warga Desa Sukolilo ini, dikatakan Juwariyah terbilang relatif murah.

“Satu caping yang sudah jadi harganya Rp 15 ribu,” ucapnya.

Juwariyah pun mengatakan dirinya tak perlu jauh-jauh untuk menjajakan caping kreasinya karena sudah ada pengepul yang datang ke desanya untuk membeli caping.

“Satu minggu sekali pasti ada pengepul yang datang untuk membeli caping,” tuturnya.

Meski hanya kerajinan tangan tradisional, caping karya warga Desa Sukolilo ini sudah merambah berbagai daerah di Jatim.

Caping karya warga Sukolilo ini, menurut Juwariyah lebih disukai karena lebih kuat dan bisa berbentuk lebar selebar payung.

“Para pengepul yang datang ini berasal dari berbagai daerah di Jatim,” ujar Juwariyah seraya menyebut selain dirinya masih banyak warga Desa Sukolilo, Kecamatan Sukodadi, Lamongan yang membuat kerajinan anyaman bambu. (Rinto)

loading...

Loading...

News Feed