by

Mahfud MD “Habisi” Pentolan Banser Ustadz Abu Janda

Ustadz Abu Janda al-Boliwudi dan Mahfud MD (IST)

Mahfud MD mengkritik keras pentolan Banser Ustadz Abu Janda al-Boliwudi yang mempertanyakan kedudukan hadits.

“Saya kritik mas Abu Janda yang mengatakan hadis yang hadir 200 tahun sesudah nabi wafat itu dhaif, itu sangat berpandangan dengan tradisi NU. Hadis itu memang ditulis, diteliti dan dihimpun 200 tahun sesuah nabi wafat. Ini bisa dipercaya,” ujar Mahfud, yang merupakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi.

Dia menjelaskan, karena diteliti maka ada tingkatan kualitas hadis. Misalnya ada yang namanya hadis mutawatir. Hadis ini merupakan hadis yang didengar banyak orang dan dengan demikian tak bisa terbantahkan kesahihannya.

Baca juga:  Aktivis Malari 74: Bersatunya Gerakan Mahasiswa & Pelajar STM/SMK Jadi Kekuatan Melawan Koruptor

Setelah hadis mutawatir, ada hadis sahih. Hadis ini tingkat kebenarannya nomor wahid dan hampir dipastikan sahih kebenarannya. Pada hadis sahih terdapat sanad (sandaran) dan periwayatnya yang jelas.

Dalam hadis sahih, periwayatnya harus memang benar-benar teruji kualitasnya. Periwayatnya orangnya bersih, tak pernah lupa, jujur, kalau punya hutang dia pasti bayar hutang, dan nyaris tak pernah salah.

“Hampir dipastikan itu (hadis) benar meski (hadir setelah) 200 tahun. Itu (penjelasan Abu Janda) menusuk tradisi pesantren,” jelasnya.

 

Loading...
Loading...

loading...

News Feed