_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"suaranasional.com","urls":{"Home":"https://suaranasional.com","Category":"https://suaranasional.com/category/gadget/aplikasi/","Archive":"https://suaranasional.com/2017/11/","Post":"https://suaranasional.com/2017/11/23/kh-luthfi-bashori-berpakain-islami-imannya-mancung-tinggalkan-pakaian-islami-pesek-imannya/","Page":"https://suaranasional.com/karir/","Attachment":"https://suaranasional.com/2017/11/23/kh-luthfi-bashori-berpakain-islami-imannya-mancung-tinggalkan-pakaian-islami-pesek-imannya/kh-luthfibashori/","Nav_menu_item":"https://suaranasional.com/2017/09/26/politik/","Vecb_editor_buttons":"https://suaranasional.com/vecb_editor_buttons/baca-juga/"}}_ap_ufee
Thursday , 23 November 2017
Breaking News
Home > Politik > Putra Letjen MT Haryono Cerita soal Peristiwa G30S/PKI

Putra Letjen MT Haryono Cerita soal Peristiwa G30S/PKI

Putra Letjen MT Haryono, Rianto Nurhadi (Foto: Samsdhuha Wildansyah/detikcom)

Putra pahlawan revolusi Letjen Mas Tirtodarmo Haryono, yakni Rianto Nurhadi bercerita soal peristiwa G30S/PKI. 

Ia bercerita saat rumahnya digerebek PKI untuk menculik dan membunuh ayahnya.

“Saya melihat ayah saya pada waktu pintu terbuka. Jadi pintu ditembak sampai hancur dan terbuka dan ayah saya merebut senjata dari gerombolan itu. Jadi itu gerombolan Cakrabirawa. Ketika dia rebut senjata itu dia ditembak dari belakang kemudian saya lari,” ujar Rianto.

Hal ini disampaikan Rianto seusai nonton bareng film G30S/PKI di Lapangan 1 Kostrad, Cijantung, Jaktim, Kamis (28/9) malam. Saat itu, ia melihat perlakuan kejam PKI kepada MT Haryono.

“Rumah kami hancur, atapnya, temboknya. Kami melihat sendiri ayah saya diseret. Diseretnya itu dia menarik kaki ayah saya sepanjang kamar sampai ke depan truk dan ayah saya dilempar seperti melempar sekarung beras,” tuturnya.

“Jadi itu betul-betul perbuatan yang sangat keji menurut saya. Banyak selongsong peluru, bau mesiu yang sangat menyengat, darah berserakan dan bisa bayangkan keadaan pada saat itu. Ayah kami dihina, diteror, direndahkan martabatnya kemudian dibunuh secara kejam dan keji. Menurut saya suatu hal yang tidak boleh terjadi,” sambung anak ketiga MT Haryono ini.

Setelah kejadian, Rianto dan ibunya pergi ke kediaman Jenderal Ahmad Yani untuk melaporkan peristiwa itu. Namun, hal serupa juga dialami Ahmad Yani. Seperti diketahui, MT Haryono dan Ahmad Yani tewas dibunuh oleh PKI dan mayatnya dilempar ke sumur sempit di Lubang Buaya.

“Jadi itu sekilas ceritanya memang itu luka yang tidak bisa hilang begitu saja, karena kejadianya di depan kami sendiri. Luka itu lama sembuhnya dan berbekas terus. Tiap tahun film itu selalu diputar sampai tahun 98 lalu kemudian tidak ada,” ujar Rianto.[detik]

loading...
loading...


About Ibnu Maksum