_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"suaranasional.com","urls":{"Home":"https://suaranasional.com","Category":"https://suaranasional.com/category/gadget/aplikasi/","Archive":"https://suaranasional.com/2017/11/","Post":"https://suaranasional.com/2017/11/24/rendahkan-ustadz-abdul-somad-alumni-doktor-kairo-ini-ingatkan-zuhairi-misrawi/","Page":"https://suaranasional.com/karir/","Attachment":"https://suaranasional.com/2017/11/24/rendahkan-ustadz-abdul-somad-alumni-doktor-kairo-ini-ingatkan-zuhairi-misrawi/mifatha/","Nav_menu_item":"https://suaranasional.com/2017/09/26/politik/","Vecb_editor_buttons":"https://suaranasional.com/vecb_editor_buttons/baca-juga/"}}_ap_ufee
Friday , 24 November 2017
Breaking News
Home > Politik > Pemuda Aswaja: Ada Masjid Besar di Yangon, Bukti Pemerintah Myanmar tak Musuhi Islam

Pemuda Aswaja: Ada Masjid Besar di Yangon, Bukti Pemerintah Myanmar tak Musuhi Islam

Chulia Dargah Mosque di Yangon (IST)

Chulia Dargah Mosque di Yangon (IST)

Pemerintah Myanmar tidak memusuhi Islam dengan dibuktikan adanya Masjid besar di Yangon dan warga bebas melaksanakan ibadah.

Demikian dikatakan Koordinator Pemuda Aswaja Nur Khalim kepada suaranasional, Selasa (5/9). “Kasus Rohingnya lebih bernuasa politis bukan agama,” kata Nur Khalim.

Menurut Nur Khalim, pemerintah Myanmar memberikan kebebasan umat Islam di Yangon melaksanakan shalat maupun aktivitas lainnya.

“Kalau Anda di Yangon, ada suara azan di Chulia Dargah Mosque. Ini membuktikan tidak ada kebencian Islam di Myanmar,” tegas Nur Khalim.

Kata Nur Khalim, kejadian Rohingnya karena politik dan persengkolan penguasa Myanmar dengan tokoh agama Budha. “Ini akibatnya agama masuk wilayah politik,” jelas Nur Khalim.

Selain itu, menurut Nur Khalim situasi di Rakhine Utara yang sebagian besar dihuni masyarakat etnis Rohingya, yang berasal dari Bangladesh memanas pasca penyerangan terhadap 30 pos polisi dan 1 markas tentara secara serentak.

Penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok etnis Rohingya yang tergabung dalam militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) itu menewaskan 72 orang yang terdiri dari, 59 militan dan 12 aparat keamanan.

“Penyebabnya karena tidakan kelompok ARSA yang menyerang militer Myanmar,” pungkas Nur Khalim.

loading...
loading...


About Ibnu Maksum