_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"suaranasional.com","urls":{"Home":"https://suaranasional.com","Category":"https://suaranasional.com/category/gadget/aplikasi/","Archive":"https://suaranasional.com/2017/10/","Post":"https://suaranasional.com/2017/10/21/ini-dia-rincian-revisi-aturan-taksi-online-berlaku-1-november/","Page":"https://suaranasional.com/karir/","Attachment":"https://suaranasional.com/2017/10/21/ini-dia-rincian-revisi-aturan-taksi-online-berlaku-1-november/wp-image-1489452348-jpg/","Nav_menu_item":"https://suaranasional.com/2017/09/26/politik/","Vecb_editor_buttons":"https://suaranasional.com/vecb_editor_buttons/baca-juga/"}}_ap_ufee
Saturday , 21 October 2017
Breaking News
Home > Inspirasi > Subhanalloh, Tukang Tahu Keliling di Sukabumi Bisa Naik Haji

Subhanalloh, Tukang Tahu Keliling di Sukabumi Bisa Naik Haji

Dedi Somantri alias Mang Dedi penjual tahu keliling di Sukabumi yang menyisihkan rezekinya untuk berangkat haji. (Foto: Syahdan Alamsyah)

“Bila hati sudah bulat, bila tujuan sudah mantap, apapun akan menjadi berkah” sepenggal kalimat itu meluncur dari mulut mang Dedi Somantri.

Dedi adalah seorang tukang tahu keliling di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini. Pria berusia 63 tahun ini punya tekad kuat untuk berangkat ibadah haji ke Mekkah. 
Demi pergi ke Tanah Suci, Mang Dedi, begitu sapaannya, selama 10 tahun menyisihkan rezeki.

Sebetulnya, kata Mang Dedi, niat berangkat haji sudah ada di hatinya sejak tahun 1990. Namun karena ada keperluan lain, ia memulai menabung pada 2007.

“Saya ngumpulin uang ditambah sisa-sisa tabungan. Alhamdulillah masa tunggu saya lima tahun, akhirnya tahun ini baru benar-benar bisa berangkat haji,” ungkap Mang Dedi seperti kami kutip dari detikcom, minggu (16/7/2017).

Setiap hari Mang Dedi berjalan kaki menempuh jarak belasan kilometer untuk dagang tahu. Sejak berpisah dengan sang istri, dia membesarkan putranya seorang diri.

Sejak saat itu ia bekerja keras membiayai sekolah anak, merehab rumah dan menyisihkan sebagian uang penghasilannya untuk mewujudkan ibadah haji.

“Anak begitu lulus kuliah di keperawatan langsung bekerja di salah satu rumah sakit di Kota Sukabumi. Sekarang sudah menikah, saya juga sudah punya cucu. 

Saya yang biayai anak saya untuk keperluan sekolahnya, saat itu dia tinggal bersama neneknya di daerah Jampang Kulon,” papar Mang Dedi.

Mang Dedi berjualan 300 butir tahu dan 100 buah lontong tiap harinya. Hasil jualan itu keuntungannya Rp 50 ribu, uang itu ia sisihkan Rp 30 ribu untuk berangkat haji dan Rp 20 ribu untuk keperluannya sehari-hari.

“Orang-orang sini tahu semua, saya berjalan kaki keluar masuk kampung berjalan kaki. Biasanya nongkrong jualan di kantor dinas, atau masuk ke sekolah-sekolah. Saya ngambil tahu dari tetangga dekat rumah yang punya pabrik tahu,” ujarnya.

Luasnya area jualan membuat Mang Dedi dikenal warga dan hal itu berkesan bagi orang yang pernah menjumpainya. Tidak heran ketika Mang Dedi dikabarkan akan berangkat haji, warganet ramai-ramai memposting kisah keuletan Mang Dedi. Sosoknya menjadi viral.

Mang Dedi mengaku tidak mengetahui soal ceritanya itu telah meramaikan jagat media sosial (medsos) di Sukabumi. Bahkan dia tak ngeh siapa yang memfotonya saat menjalani pelatihan manasik. 

“Saya enggak punya Facebook, jadi enggak tahu. Saya dikabarin sama tetangga, katanya foto dan cerita saya ramai dibicarakan,” tutur Mang Dedi tersenyum.[detik]

loading...
loading...


About Ibnu Maksum