Perlu Edukasi Program bagi Relawan Lembaga Zakat

Para relawan harus mendapatkan edukasi tentang program sehingga dapat dengan mudah menawarkan ke calon donatur. Para relawan harus mempunyai kesamaan visi dan misi dengan lembaga zakat.

“Kita memberi kemudahan relawan mendapatkan edukasi tentang program. Relawan tersebut menawarkan ke calon donatur sehingga ada kesamaan dengan lembaga,” kata Chief Program Officer Rumah Zakat, Muhammad Sobirin di acara expert talk bertemakan “Strategi Pengelolaan Relawan Ramadhan”, Jumat (23/2/2024).

Program yang ditawarkan ke donatur harus menarik dan memberikan banyak manfaat kepada orang-orang yang membutuhkan. “Kalau program biasa bisa menarik donatur itu mustahil kecuali menggunakan rekayasa marketing. Kita harus memastikan program itu hebat dan banyak manfaat,” jelas Sobirin.

Baca juga:  Amil dan Sandwich Generation

Kata Sobirin, program biasa yang bisa laku dijual tidak akan menarik buat donatur untuk berdonasi lagi. “Ada program biasa bisa dijual itu kekuatan marketing. Donatur tidak berdonatur lagi,” ungkapnya.

Di Ramadhan, kata Sobirin, bukan hanya program yang disebar kepada calon donatur tetapi value (nilainya). “Kalau kita bagikan berbuka puasa bukan nasi tapi nilainya. Kita harus siap kenyataan donatur memandang nilainya tinggi, tidak mempermasalhkan harganya, tidak tanya menunya. Kita membagikan nilainya,” jelasnya.

Untuk menyebarkan nilai tersebut ke calon donatur harus memiliki strategi, struktur, sistem, style, staf (orang yang bisa membagikan value) dan keahlian. “Relawan harus memiliki value yang sama. Relawan yang direkrut memiliki value itu,” papar Sobirin.

Baca juga:  Izzah dan 'Iffah bagi Seorang Amil Zakat

Selain itu, Sobirin mengatakan, lembaga zakat memiliki dua peran yang dimetaforakan seperti jembatan dan kurir. Jembatan kokoh bisa dilalui banyak kendaraan dan muatan tanpa kecelakaan. “Peran kita sebagai jembatan apa yang lewat kita buat nyaman. Kita jembatan donatur dengan penerima manfaat,” ungkapnya.

Lembaga zakat diibaratkan kurir, kata Sobirin karena tidak berkenan memiliki atau ingin mengetahui isi barang yang akan diantar. “Tugas kita menyampaikan kebaikan. Mental merasa memiliki harus dijauhkan. Paket kita isi kebaikan, pemberdayaan dan menyelamatkan. Kita menjadi jembatan dan kurir,” pungkas Sobirin.