Shaum Ramadhan dan Dimensi Iman

Oleh : Sholihin MS

Berbahagialah orang yang bisa mendapatkan bulan Ramadhan tahun ini, karena kita mendapatkan suatu saat terbaik dan amalan-amalan puncak dalam hidup kita. Allah swt akan menghapus seluruh dosa-dosa kita apabila kita mampu menjalankan ibadah shaum dengan sempurna.

Ada tiga amalan yang bisa menjadi kaffarat (penghapus dosa), yaitu : shalat 5 waktu, Ibadah Jum’ah, dan Shaum Ramadhan

Sabda Nabi saw :

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مُكَفِّراتٌ لما بينهنَّ إذا اجتُنبَت الكبائر».

“Shalat 5 waktu, ibadah Jum’ah ke Jum’ah berikutnya, dan shaum Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, sebagai kaffarat dosa-dosa jika ditinggalkan dosa-dosa besar”

Ibadah shaum yang sempurna adalah shaum yang dilandasi oleh iman dan ihtisaab. Disebutkan dalam berbagai Kitab adanya sabda Rasulullah saw :

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «من صَام رمضان إيِمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِر له ما تَقدَّم من ذَنْبِه».
[صحيح] – [متفق عليه]

الشرح
معنى الحديث: أن من صام شهر رمضان إيمانا بالله مصدقا بوعده محتسبا ثوابه قاصدا به وجه الله تعالى ، لا رياء ولا سُمعة، غُفِر له ما تقدم من ذنبه

“Siapa yang shaum karena iman dan memgharap pahala dari Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”

Dalam hadis lain disebutkan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ رواه البخاري (37)، ومسلم (759).

“Siapa yang mendirikan shalat malam karena iman dan memgharap pahala dari Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”

Dimensi iman

Perkataan “iman” bisa bermakna :
1. Status seseorang sebagai Muslim dan Mukmin, sebagai lawan dari Kafir. Allah swt hanya akan menyelamatkan seseorang yang ketika meninggal dalam keadaan Islam. Adapun orang yang kafir dan matinya dalam keadaan kafir (nonmuslim), maka seluruh amalnya terhapus dan di akhirat akan diadzab di neraka selama-lamanya.

Sebagaimana Fiman Allah swt surat Ali Imran : 22

“Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.”

Baca juga:  Puasa Bukan Hanya Menahan Makan dan Minum

Juga dalam surat Al-Baqarah : 161-162

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” (Q.S.Al-Baqarah : 161-162)

2. Iman sebagai bagian tingkatan orang yang bertakwa. Jika orang bertakwa itu memiliki 10 tingkatan, maka orang beriman baru di level kedua setelah Muslim. 10 tingkatan itu adalah : Muslim – Mukmin – Qanithin (orang yang taat) – Shadiqin (orang yang jujur) – Shabirin (orang yang sabar) – Khasyi’in (orang yang khusyu’) – Mutashaddiqin (orang ahli sedekah) – Shaimin (orang yang ahli shaum) – Haafizzin furujahum (menjaga farji) – Dzakirin Allah katsiran (orang yang berdzikir sebanyak-banyaknya)

Perbedaan Muslim dan Mukmin. Kalau Muslim dia sudah berikrar dengan dua kalimat syahadat dan mrlaksanakan rukun Islam, tapi baru sebatas kuantitas. Sedangkan Mukmin maka sudah melalsanakan rukun Islam secara kualitas, dan sudah meyakini terhadap rukun iman.

Jadi kalau kita masih beramal secara kuantitatif belum.kualitatif, kita belum beriman. Firmam Allah swt :

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”._ (Q.S. Al-Ĥujurāt):14 )

3. Iman sebagai landasan dalam beramal artinya bersmal secara ikhlas, penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berbuat syirik, ria dan sum’ah.

Firman Allah swt :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S. Al–Bayyinah:5)

Shaum yang akan mendapat ampunan Allah adalah shaum yang dilandasi karena keikhlasan kepada Allah, mentaati perintah Allah, mengharapkan pahala hanya dari Allah, mencari ridha Allah dengan tidak menyekutukan-Nya, tidak ria dan sum’ah.

Baca juga:  Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Syahrul Jihad

4. Iman dalam pengertian sifat takwa yang ada dalam diri seseorang. Lawannya adalah hawa nafsu. Iman dan hawa nafsu ini selalu bermusuhan dalam diri seseorang. Jika seseorang beramal dengan iman, maka hawa nafsu bersembunyi, demikian sebaliknya, jika seseorang beramal dengan hawa nafsu, imannya bersembunyi. Iman selalu turun dan naik mengikuti kemampuan seseorang dalam mengendalikan hawa nafsunya.

Ada hadis Rasulullah saw dalam Kitab Shahih Muslim di Bab Iman ;
قال أبو هريرة: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن، ولا يسرق السارق حين يسرق وهو مؤمن، ولا يشرب الخمر حين يشربها وهو مؤمن»

“Tiada seorang (Muslim) melakukan Zina, ketika dia berzina, dia bukan orang beriman (imannya sedang lepas); tiada seorang (Muslim) dia mencuri/korupsi, ketika dia mencuri/korupsi, dia bukan orang beriman (imannya sedang lepas); tiada seorang (Muslim) minum khamer, ketika dia minum, dia bukan orang beriman (imannya sedang lepas)”

Jadi seorang Mukmin ketika dia melakukan perbuatan dosa, maka imannya seda di luar tubuhnya. Jika pada waktu dia berbuat dosa kemudian dicabut nyawanya (mati), maka dia mati sebagai suu-ul khatimah. Na’udzubillah min dzaalik.

Orang beriman yang menuhankan hawa nafsunya, maka dia akan tersesat. Jika dia juga seorang ‘alim (‘ulama) maka dia akan dhaallun-mudhillun (sesat dan menyesatkan banyak orang. Dan itulah yang disebut ‘ulamaa-ussuu* (ulama jahat)
Firman Allah :

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Jāthiyah:23)

Semoga kita terhindar dari melakukan amalan yang dibungkus dengan hawa nafsu karena seperti menampurkan makanan yang baik dengan kotoran.

Bandung, 1 Ramadhan 1444